Selasa, 09 Mei 2017

PENGARUH PROFESIONALISME GURU DAN MANAJEMEN KELAS TERHADAP PEMBELAJARAN



PROPOSAL







PENGARUH PROFESIONALISME GURU DAN MANAJEMEN KELAS TERHADAP PEMBELAJARAN DI SDN PASURUHAN PATI



Oleh
NANIK ISTIKA WATI
NIM. 2015-03-006





MAGISTER PENDIDIKAN DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MURIA KUDUS
2016











BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Perencanaan pembelajaran yaitu merencanakan persiapan pengelolaan pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam kelas untuk mencapai tujuan. Perencanaan sebelum proses pembelajaran berlangsung perlu dilakukan untuk mengantisipasi dan perkiraan tentang apa yang akan dilakukan dalam pembelajaran, sehingga tercipta kondisi yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang dapat mengantar siswa mencapai tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran. Faktor yang paling mendasar adalah kemampuan guru untuk melakukan suatu upaya dalam mewujudkan apa yang diinginkan. Dengan demikian, guru memegang peranan penting dalam proses pembelajaran yang akan dilakukan. Seperti yang telah diungkapkan oleh Mulyasa, (2009: 5) guru merupakan komponen yang paling berpengaruh terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas.
Guru mempunyai peran yang sangat penting dalam upaya menciptakan tujuan pembangunan nasional, khususnya di bidang pendidikan, sehingga perlu dikembangkan sebagai tenaga profesi yang bermartabat dan profesional, khususnya dibidang memberikan pembelajaran kepada siswa. Bayangkan seandainya sebuah sekolah atau ruang kelas dimana semua siswa mendapatkan akses pembelajaran yang menarik serta terdapat harapan yang positif dari siswa terhadap hasil pembelajaran yang baik. Para guru berwawasan luas yang memiliki sumber daya yang memadai untuk mendukung pekerjaan guru serta terus berkembang sebagai profesional.
Sebagai seorang guru yang tugasnya sebagai pendidik haruslah memiliki kemampuan dasar mengajar sebagai profesionalisme guru dan manajemen kelas yang berorientasi pada tujuan keberhasilan pembelajaran. Seperti yang telah diungkapkan oleh Aqib (2010: 42) yang menyatakan bahwa suatu sistem pembelajaran yang baik memiliki tiga ciri utama yaitu memiliki rencana yang khusus, kesalingtergantungan antara unsur-unsurnya, dan tujuan yang hendak dicapai. Kondisi ini juga didukung oleh Hakiim (2009: 238) yang menyatakan guru setiap akan mengajar hendaknya menyusun perencanaan pembelajaran yang tertulis, meskipun merasa sudah berpengalaman atau merasa sudah hapal.
Namun, pada kenyataanya praktik di lapangan sering kali menyimpang dari apa yang harusnya terjadi. Tidak jarang guru dalam mengajar tidak memilik rencana khusus yang ingin dicapai dari hasil pembelajaran, belum menerapkan unsur-unsur yang seharusnya ada dalam mengajar serta kurangnya manajemen kelas.
Kondisi tersebut juga dialami di kelas tinggi SDN Pasuruhan, berdasarkan hasil observasi menunjukkan bahwa guru dalam mengajar kurang profesional, mereka mengajar tanpa perencanaan yang baik serta manajemen kelas yang kurang mendukung pembelajaran. Sehingga, hal ini berdampak negatif terhadap efektivitas pembelajaran yang dilakukan guru. Hasil belajar siswa dari hasil pembelajaran yang telah dilakukan guru tidak dapat diprediksi hasilnya karena kurangnya perencanaan sebelumnya.
Penelitian pemecahan masalah dalam hal pengaruh profesionalisme guru dan manajemen kelas terhadap pembelajaran IPA sebelumnya juga pernah dilakukan banyak peneliti. Salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Sandi (2014) dengan judul penelitian “Persepsi Siswa Terhadap Manajemen Kelas Oleh Guru Di Smk Tri Dharma Kosgoro 2 Padang” dengan hasil penelitian sebagai berikut: 1) peningkatan kesadaran diri sebagai guru, ) peningkatan kesadaran peserta didik, 3) sikap polos dan tulus dari guru, 4) mengenal dan menentukan alternatif pengelolaan, 5) menciptakan kontrak sosial.
Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, maka peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Profesionalisme Guru dan Manajemen Kelas Terhadap Pembelajaran IPA di SDN Pasuruhan Pati”.

1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Adakah Pengaruh Profesionalisme Guru dan Manajemen Kelas Terhadap Pembelajaran IPA di SDN Pasuruhan Pati?

1.3  Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka dirumuskan tujuan penelitian sebagai berikut:
1.      Mendeskripsikan Pengaruh Profesionalisme Guru dan Manajemen Kelas Terhadap Pembelajaran IPA di SDN Pasuruhan Pati
.
1.4  Kegunaan Penelitian
Kegunaan atau manfaat dari pelaksanaan penelitian ini yaitu meliputi manfaat teoritis dan manfaat praktis.

1.4.1        Kegunaan Teoritis
Secara teoritis penelitian ini dapat menambah pengembangan/ kajian rekan-rekan seprofesi dalam Mendeskripsikan Pengaruh Profesionalisme Guru dan Manajemen Kelas Terhadap Pembelajaran IPA di SDN Pasuruhan Pati.

1.4.2        Kegunaan Praktis
1.      Kegunaan bagi guru
a.       Dapat dijadikan sebagai alat/ sarana untuk mengembangkan diri sebagai guru yang profesional.
b.      Mengembangkan mutu pendidikan di tingkat kelas maupun sekolah
c.       Membantu guru lebih kreatif dalam melaksanakan proses pembelajaran.
d.      Dapat dijadikan pedoman untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran.
2.      Kegunaan bagi siswa
a.       Menumbuhkan antusias belajar siswa.
b.      Meningkatkan hasil belajar siswa.
3.      Kegunaan bagi sekolah
a.       Memberikan masukan untuk proses perbaikan pembelajaran.
b.      Meningkatkan kualitas lulusan.
4.      Kegunaan bagi peneliti
a.       Bagi peneliti dapat dijadikan alat/ sarana untuk mengembangkan diri sebagai pendidik nantinya.

1.5  Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Meningkatnya Pengaruh Profesionalisme Guru dan Manajemen Kelas Terhadap Pembelajaran IPA di SDN Pasuruhan Pati pada tahun pelajaran 2016/ 2017.
2.      Dibatasi pada mata pelajaran IPA kelas tinggi di semester I.

1.6  Definisi Operasional
Untuk menghindari salah paham dalam melaksanakan kegiatan penelitian ini, maka penelitian dengan judul “Pengaruh Profesionalisme Guru dan Manajemen Kelas Terhadap Pembelajaran IPA di SDN Pasuruhan Pati”, dapat  peneliti  jelaskan  terlebih dahulu  istilah-istilah yang terkandung dalam judul penelitian tersebut. Pemaparannya sebagai berikut:

1.6.1        Profesionalisme Guru
Profesi adalah adanya keterampilan kerja yang dimiliki seseorang. Profesi lebih banyak menekankan kepada keahlian pada sesuatu bidang. Dengan demikian, keahlian ini dapat diartikan bahwa seseorang yang menyandang predikat profesi selalu melandaskan pekerjaanya pada intelektual yang dimiliki. Maksudnya, ia selalu berpedoman pada teori dan konsep tertentu, sehingga apa yang dilakukan/ dikerjakan selalu bersifat logis atau dapat diterima oleh akal pikiran manusia.
Guru adalah seseorang yang mengantar siswa menjadi manusia dewasa yang cerdas dan berbudi luhur. Peran guru dalam hal ini yaitu guru membentuk mental, sikap, dan watak yang lebih baik dari sebelumnya.

1.6.2        Manajemen Kelas
Ruang kelas adalah tempat kegiatan terjadinya proses pembelajaran, yang dihuni atau ditempati sekelompok manusia dengan berbagai karakter, kepribadian, tingkah laku, latar belakang serta emosi yang berbeda-beda. Sedangkan manajemen kelas merupakan pengelolaan kelas yang dilakukan guru untuk mendukung keberhasilan tujuan pembelajaran.

1.6.3        Pembelajaran
Pembelajaran ialah proses interaksi antara unsur guru, isi pembelajaran dam siswa yang dikemas sedemikian rupa oleh guru dengan harapan pembelajaaran akan berhasil sesuai dengan harapan.











BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN
2.1  Kajian Pustaka
2.1.1        Profesionalisme Guru
Sekolah merupakan organisasi yang bergerak dibidang pendidikan dan bertanggung jawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, serta membentuk mental siswa yang matang dan mencerminkan moral positif dalam berpikir serta bertindak. Keberadaban sekolah juga memiliki andil dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Nasional, tentu tidak pernah terlepas dari peranan seorang guru.
Guru diharapkan dapat membantu siswa dalam memecahkan masalah, agar tujuan pendidikan dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

2.1.2        Manajemen Kelas
Persiapan manajemen kelas atau pengelolaan kelas sebelum proses pembelajaran berlangsung perlu diatur untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan dari hasil proses pembelajaran. Suryadi menyatakan, (2009: 56) manajemen yaitu kemampuan staf sekolah dalam memberikan layanan yang tepat dalam segala keterbatasannya kepada peserta didik yang telah masuk ke sekolah tersebut guna mencapai prestasi yang tinggi.
Perhatian guru sebaiknya diarahkan kepada usaha menciptakan kondisi belajar yang kondusif, sehingga mendorong/ merangsang siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Segala aspek pembelajaran bertemu dan berproses di dalam kelas, guru dengan segala kemampuannya dan siswa dengan segala latar belakang dan potensinya. Oleh sebab itu, sudah sepantasnya kelas dimanajemeni secara baik, professional, terus-menerus dan berkelanjutan. Untuk sampai pada tujuan yang dimaksud perlu pemahaman mengenai manajemen kelas. Menurut Maman (1999: 93) manajemen kelas merupakan “suatu tindakan yang menunjuk kepada kegiatan-kegiatan yang  berusaha menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi bila terjadinya proses pembelajaran yang efektif.
2.1.3        Pembelajaran
Proses dalam kegiatan belajar dan mengajar, guru memegang peran sangat penting. Guru menentukan segalanya. Mau diapakan siswa? Apa yang harus dikuasai oleh siswa? Bagaimana cara melihat keberhasilan siswa? Semuanya tergantung oleh guru, oleh karena itu begitu pentingnya peran guru, maka biasanya proses pembelajaran hanya akan berlangsung manakala ada guru, dan tidak mungkin ada proses pembelajaran. Menurut Aqib (2010: 41) pembelajaran merupakan upaya mengorganisasi lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik. Sehubungan dengan proses pembelajaran tersebut maka guru harus mempunyai tiga peran utama yaitu guru sebagai perencana, sebagai penyampai informasi, dam guru sebagai evaluator Ali (2009: 152-153).
Menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif perlu dilakukan karena hal ini penting untuk mengembangkan/ menumbuhkan motivasi belajar siswa. Seperti yang telah dilakukan dalam penelitian Sumartiningsih (2011:1-4) yang menjelaskan sebelum pembelajaran, guru bersikap sebagai pendidik dimana di awal pembelajaran membuat suasana menjadi kondusif dan menganggap siswa sebagai teman belajar sehingga siswa tidak sungkan untuk bertanya mengenai materi yang belum jelas.





BAB III
METODE PENELITIAN
3.1  Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian
3.1.1        Setting Penelitian
3.1.1.1  Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2016/ 2017 di kelas tinggi SDN Pasuruhan kecamatan Kayen kabupaten Pati. Kegiatannya meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan proposal, pelaksanaan.
3.1.1.2  Lokasi Penelitian
Lokasi yang akan dilakukan untuk melaksanakan penelitian adalah di SDN Pasuruhan, dengan alamat desa Pasuruhan kecamatan Kayen kabupaten Pati kode pos 59171.
3.1.2        Karakteristik Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas tinggi SDN Pasuruhan kecamatan Kayen kabupaten Pati dengan jumlah 151 siswa, dengan rincian kelas IV berjumlah 19 siswa, kelas V berjumlah 25 siswa dan kelas VI berjumlah 17 siswa dengan karakter dan latar belakang yang berbeda.
3.2  Variabel Penelitian
Slameto (2011: 153) menyatakan “variabel bebas adalah variabel yang diduga sebagai penyebab timbulnya variabel lain. Variabel bebas biasanya dimanipulasi, diamati dan diukur untuk mengetahui pengaruhnya terhadap variabel lain”. Slameto (2011: 152) menyatakan variabel terikat/ tergantung adalah “variabel yang timbul sebagai akibat langsung dari manipulasi dan pengaruh variabel bebas. Variabel terikat menjadi tolak ukur atau indikator keberhasilan variabel bebas”.
Dalam penelitian ini ada dua variabel yang diteliti, yaitu: variabel bebasnya yaitu 1) profesionalisme guru dan 2) manajemen kelas sedangkan variabel terikatnya adalah pembelajaran IPA.
3.3  Rancangan Penelitian
Prosedur penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu













DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zainal. 2010. Profesionalisme Guru. Insan Cendekia: Surabaya.
Hakiim, Lukmanul. 2009. Perencanaan Pembelajaran. CV Wacana Prima:
Bandung.
Ranchman, Maman. 1999. Manajemen Kelas. Semarang: Depdikbud.
Ali, Muhammad. 2009. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Imtima: Bandung.
Mulyasa. 2009. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Rosda: Bandung.
Sandi, Nurleni Hastri Finty. 2014. Persepsi Siswa Terhadap Manajemen Kelas
Oleh Guru Di Smk Tri Dharma Kosgoro 2 Padang. Bahana Manajemen
Pendidikan, 1 (2), Hlm: 1-9. Tersedia di
Slameto. 2011. Penelitian dan Inovasi Pendidikan. Salatiga: Widya Sari.
Pembelajaran IPS Di SMPN 1 Kaliwungu Kabupaten Semarang Tahun 2011. Pasca UNS. Hlm: 1-4. Tersedia di http://pasca.uns.ac.id/?p=2462. Diunduh tanggal 7 april 2016.
Suryadi. 2009. Manajemen Mutu Berbasis Sekolah. PT Sarana Panca Karya Nusa:
Bandung.


KAJIAN KBK DAN KBK




REVISI KAJIAN
KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK)
DAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)


Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kajian Kurikulum Pendidikan Dasar
Dosen pengampu: Dr. Sri Utaminingsih, M.Pd.

 






Disusun oleh:
Kelompok 4

1.      Nanik Istika Wati                          (2015-03-006)
2.      Rynaldi Setya Rachim                  (2015-03-009)
3.      Subekti Kusumadewi                    (2015-03-013)
4.      Jamaludin Kamal                          (2015-03-019)



PROGDI MAGISTER PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MURIA KUDUS
2016
DAFTAR ISI


SAMPUL DEPAN.......................................................................................        i
DAFTAR ISI................................................................................................        ii
A.    KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK) ........................        1
a)      Sejarah KBK .....................................................................................        1
b)      Prinsip KBK ......................................................................................        1
c)      Ciri-ciri KBK .....................................................................................        2
d)     Kelemahan dan Keunggulan KBK....................................................        2
e)      Probelamatika Penerapan KBK .........................................................        3
B.     KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) ......        4
a)      Sejarah KTSP ....................................................................................        4
b)      Prinsip Pengembangan KTSP ............................................................        5
c)      Ciri-ciri KTSP ....................................................................................        5
d)     Kelemahan dan Keunggulan KTSP ..................................................        5
e)      Problematika Penerapan KTSP .........................................................        7


 





A.    KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK)
a)      Sejarah KBK
Munculnya kurikulum 2004 atau lebih sering disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), dilandasi dengan adanya perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia yang dipengaruhi oleh perubahan global, perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), serta seni dan budaya.
Perkembangan dan perubahan tersebut menuntut adanya perbaikan sistem pendidikan nasional, termasuk penyempurnaan kurikulum untuk mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman tersebut.
KBK difokuskan pada penyempurnaan kurikulum yang berbasis pada siswa. Penyempurnaan KBK juga dipengaruhi oleh terbitnya kebijakan yang tertuang dalam UU No. 22 tahun 2003 tentang Sisdiknas dan UU No. 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah.

b)     Prinsip KBK
Prinsip-prinsip KBK terdiri dari 2 hal, yaitu:
1.      Prinsip pengembangan
a.       Peningkatan keimanan, budi pekerti luhur, dan penghayatan nilai-nilai budaya
b.      Keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinestetika
c.       Penguatan integritas nasional
d.      Pengembangan IPTEK
e.       Pengembangan kecakapan hidup
f.       Pilar pendidikan
g.      Komprehensif dan berkesinambungan
h.      Belajar sepanjang hayat
i.        Diversifikasi kurikulum

2.      Prinsip pelaksanaan
a.       Kesamaan memperoleh kesempatan
b.      Berpusat pada siswa
c.       Pendekatan menyeluruh dan kemitraan
d.      Kesatuan dalam kebijakan dan keberagaman dalam pelaksanaan

c)      Ciri-ciri KBK
1.      Tujuan diarahkan pada penguasaan kompetensi yang dirumuskan dalam bentuk perilaku.
2.      Metode merupakan kegiatan pembelajaran sebagai proses interaksi terhadap perangsang yang diberikan.
3.      Isi kurikulum diambil dari disiplin ilmu, tetap diramu untuk mendukung penguasaan suatu kompetensi.
4.      Kegiatan evaluasi dilakukan setiap hari pada akhir suatu pembelajaran, unit pelajaran/ semester.
5.      Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa, baik individu maupun klasikal.
6.      Berorientasi pada hasil belajar.
7.      Pencapaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
8.      Sumber belajar tidak hanya dari guru tetapi juga bersumber dan unsur edukatif.
9.      Penilaian berfokus pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

d)     Kelemahan dan Keunggukan KBK
1.      Kelemahan KBK
a.       Kurikulum dan hasil belajar sudah disusun, padahal indikator seharusnya disusun oleh guru, karena guru yang paling lebih tahu kondisi siswa dan lingkungan.
b.      Konsep KBK sering mengalami perubahan meliputi SK, KD, sehingga menyulitkan guru untuk merancang pembelajaran secara berkelanjutan.
c.       KBK masih menganut sistem teacher oriented.
d.      Memandang kompetensi sebagai sebuah entitas yang bersifat tunggal, yang didalam impelentasinya banyak menghabiskan waktu, biaya, tenaga dsb.

2.      Keunggulan KBK
a.       Mengembangkan kompetensi siswa pada setiap aspek mapel dan bukan pada penekanan penguasaan konten mapel itu sendiri.
b.      Bersifat alamiah/ kontekstual.
c.       Mendasari pengembangan kemampuan-kemampuan lain yang dimiliki siswa.
d.      Guru diberi kewenangan menyusun silabus yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing sekolah.
e.       Hasil belajar dipaparkan setiap aspek dari mapel dan di evaluasi serta perbaikan terhadap kekurangan siswa dalam pembelajaran.
f.       Penilaian berfokus pada proses.
g.      Bidang-bidang studi tertentu dikembangkan menggunakan pendekatan kompetensi keterampilan.

e)      Probelamatika Penerapan KBK
1.      Dalam penerapan guru banyak menghabiskan waktu dan tenaga untuk mempersiapkan pembelajaran dan evaluasi yang harus dilakukan setiap hari.
2.      Guru kurang diberi kesempatan untuk mengembangkan SK dan KD yang sudah dipersiapkan dari Kemendikbud.
3.      Pembelajaran berpusat pada guru (teacher oriented) sehingga siswa kurang kreatif dan inovatif dalam mengikuti pembelajaran.

B.     KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)
a)      Sejarah KTSP
Perubahan dari KBK beralih pada KTSP, bahwa pelaksanaan KBK masih dalam uji terbatas. Namun pada awal tahun 2006 uji terbatas tersebut dihentikan. Selanjutnya dengan terbitnya Permendiknas no. 24 Tahun 2006 yang mengatur pelaksanaan Permen No. 22 tahun 2006 tentang standar isi, kurikulum. Serta Permen No. 23 Tahun 2006 tentang standar kelulusan lahirlah KTSP (Kurikulum 2006) yang pada dasarnya sama dengan KBK.
Menurut BSNP KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP merupakan kurikulum berbasis kompetensi yang disusun oleh dan dilaksanakan di sekolah sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah untuk memenuhi kebutuhan dan perkembangan siswa.
Pengembangan KTSP merupakan salah satu upaya untuk mengatasi masalah pendidikan khususnya relevansi pendidikan. Dengan pemberlakuan otonomi pengelolan pendidikan dan manajemen berbasis sekolah, setiap sekolah dituntut untuk dapat mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan siswa serta tuntutan dan potensi daerah yang ada.
Selain itu, profesionalisme guru juga merupakan alasan lain perlunya pengembangan KTSP. Seorang guru profesional dituntut untuk mampu mengembangkan, melaksanakan, dan mengevalusasi kurikulum. Kompetensi pengembangan kurikulum merupakan bagian integral dari profesionalisme guru.
b)     Prinsip Pengembangan KTSP
1.      Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan siswa dan lingkungannya
2.      Beragam dan terpadu
3.      Tanggap terhadap perkembangan IPTEK dan seni
4.      Relevansi dengan kebutuhan kehidupan
5.      Menyeluruh dan berkesinambungan
6.      Belajar sepanjang hayat
7.      Seimbang antara kepentingan nasional dan kepeningan daerah

c)      Ciri-Ciri KTSP
1.      KTSP memberi kebebasan terhadap tiap-tiap sekolah untuk menyelenggarakan program pendidikan sesuai  dengan kondisi lingkungan sekolah, kemampuan siswa, SDM, dan kekhasan daerah.
2.      Orang tua dan masyarakat dapat terlibat secara aktif dalam penyusunan kurikulum,
3.      Guru harus mandiri dan kreatif
4.      Guru diberi kebebasan untuk memanfaatkan berbagsai metode pembelajaran.

d)     Kelemahan dan Keunggulan KTSP
1.      Kelemahan KTSP
a.       Kurangnya SDM yang diharapkan mampu menjabarkan KTSP pada kebanyakan satuan pendidikan yang ada. Minimnya kualitas guru dan sekolah.
b.      Kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendukung kelengkapan KTSP.
c.       Banyak guru yang belum memahami KTSP secara komprehensif baik konsep, penyusunan, maupun prakteknya di lapangan.
d.      Penerapan KTSP yang merekomendasikan pengurangan jam pelajaran akan berdampak berkurangnya pendapatan guru. Sulit untuk memenuhi kewajiban mengajar 24 jam, sebagai syarat sertifikasi guru mendapatkan tunjangan profesi.

2.      Keunggulan KTSP
a.       Mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu bentuk kegagalan pelaksanaan kurikulum di masa lalu adalah adanya penyeragaman kurikulum di seluruh Indonesia, tidak melihat situasi riil di lapangan, dan kurang menghargai keunggulan lokal.
b.      Mendorong para guru, kepala sekolah dan pihak manajemen sekolah untuk semakin meningkat kreativitasnya dalam penyelenggaraan program-program pendidikan.
c.       Guru sebagai fasilitor yang bertugas mengkondisikan lingkungan untuk memeberikan kemudahan belajar siswa.
d.      Mengembangkan ranah pengetahuan, sikap, dan keterampilan berdasarkan pemahaman yang akan membenetuk kompetensi individual.
e.       Menggunakan berbagai sumber belajar
f.       Kegiatan pembelajaran lebih bervariasi, dinamis, dan menyenangkan.
g.      Kewenangan dalam penyusunannya mengacu pada jiwa desentralisasi sistem pendidikan.
h.      Pemerintah pusat menetapkan SK dan KD sedangkan dalam hal ini guru dituntut untuk mampu mengembangkan dalama bentuk silabus dan penilaiannya sesuai dengan kondisi sekolah dan daerah.

e)      Problematika Pelaksanaan KTSP
1.      Dalam hal keterlibatan guru dalam penyusunan KTSP, silabus, dan RPP. Selain itu satu hal yang perlu dilihat ulang karena sampai saat ini sekolah ternyata masih sangat tergantung  dengan model kurikulum dari pusat kurikulum, seharusnya dikembalikan kejiwaa semula bahwa yang ditentukan oleh BSNP adalah SKL, Standar Isi, Standar Proses dan Standar Penilaian.
2.      Belum maksimalnya sosialisasi dan pelatihan terhadap guru-guru bahkan meski ada yang belum mendapat sosialisasi dan pelatihan. Sehingga masih banyak para guru dan pemangku kepentingan yang belum memahami KTSP. Banyak guru yang berpersepsi sebagai penerima pasig pengambilan kebijakan keputusan kurikulum
3.      Sarana dan prasarana fasilitas dalam penerapan KTSP di beberapa sekolah masih ada kekuarangan pada saat pemeblajaran di kelas, terlebih pada sekolah-sekolah di pelosok yang jauh dari jangkauan pengamatan pemerintah.